Kamis, 03 Juli 2014

Kabar Michiko San dari Jepang

Pada bulan april kemarin salah satu member JOC harus kembali ke Jepang. Sedih rasanya kita harus berpisah dengan salah seorang teman yaitu Sdri. Michiko Takemoto.

Michiko San
Perpisahan dengan Michiko San akhir April lalu
Kemudian beberapa minggu yang lalu Michiko-san menyapa kami di facebook memberikan kabar. Selain kabar, beliau juga mengabarkan mengenai kegiatan yang ia hadiri. Berikut kabar nya. (terima kasih kepada Ashida-san yang telah menerjemahkannya ke dalam bahasa ^^)
Kepada teman teman JOC, Apa kabar? Saya Michiko yg bulan kemarin kembali ke Jepang. Hari ini tgl 30 Mei adalah hari sampah 0(nol) di Jepang. Sampah dalam bahasa Jepang=Gomi. 5 dibaca Go, 3 dibaca Mi dan 0(nol) maka ditetapkan hari GOMI 0(zero). Karena itu, saya ikut kegiatan pemetikan sampah di sekitar stasiun Shinjuku dan Takadanobaba di Tokyo, yang mana dikuti pula oleh nenek-nenek, kakek-kakek, mahasiswa dll total kurang lebih 100 sukarelawan. Saya bersemangat sambil membawa kantong belanja plastik tapi ternyata sampah yang berserakan sedikit sekali dan hanya 1 per 10 dari kantong belanja plastik terisi oleh sampah yg saya petik. Saya berkesan bahwa memang Jepang bersih tapi saya lihat masih ada puntung rokok terbuang di sekitar got air juga permen karet dibuang begitu saja. Maka saya yakin di Jepang pun masih diperlukan kegiatan seperti ini. Komunitas yang saya ikut kali ini adalah kumpulan sukarelawan bernama Green bird (Non profit organization) memiliki anggotanya di puluhan kota di Jepang bahkan punya sekretariat di luar negeri seperti Ghana, Sri lanka. Singapore dan Paris http://www.greenbird.jp/index.php Jika nanti teman teman berkesempatan ke Jepang, alangkah baiknya dapat kolaborasi antara JOC dan Green bird. Demikian laporan dari saya. Saya senantiasa berdoa agar JOC dapat melanjutkan kegiatannya dengan baik.

Aktivis Green Bird di Jepang
Wah seru kan? Di Jepang saja yang begitu memperhatikan kebersihan tetap ada kegiatan pemetikan sampah seperti itu. Sehat selalu untuk Michiko San! dan semoga suatu saat JOC bisa berkolaborasi dengan mereka ke Jepang ya! Amin.

Salam Hangat,
Jakarta Osoji Club

Minggu, 29 Juni 2014

Aksi JOC di Hari Ulang Tahun Jakarta

SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA! 
Kita terus menambahkan umur kepada kota ini, merayakannya setiap tahun tapi apa yang sudah kita perbuat untuk Jakarta tercinta?


Kegiatan rutin Jakarta Osoji Club (JOC) tanggal 22 Juni 2014 lalu memang bertepatan dengan hari lahirnya Jakarta. Beberapa hari sebelum kegiatan kita sudah mengumumkan jadwal “bersih-bersih Jakarta” di media sosial.

Seperti biasa kita akan berkumpul di depan pintu XII GBK pada pukul 08.00 WIB tepat dan langsung melakukan aksi bersih-bersih. Tetapi kita tidak tahu kalau pada hari itu berlangsung kampanye salah satu calon presiden. Tempat berkumpul kami yang biasanya sudah tertutup bus dan mobil kampanye serta orang-orang yang berjualan atribut kampanye. Kita tetap mengambil tempat berkumpul di daerah dekat pintu XII agar teman-teman yang baru bergabung tidak kebingungan mencari.

Kegiatan pun kami mulai dengan semangat! Sambil melihat lalu-lalangnya peserta kampanye, kami tidak lelah untuk terus memetik sampah-sampah yang berserakan. Selanjutnya biarlah foto yang berbicara ya… hehehe


Selebaran-selebaran yang berakhir sebagai sampah



Yang nyampah siapa, Yang bersihin siapa? Hayo...

Sayang sekali rasanya kalau semangat berdemokrasi harus tercoreng karena perilaku membuang sampah semabarangan seperti ini. Sangking banyak (sekali) nya sampah yang berserakan, teman2 JOC minimal membawa 2 kantung sampah yang besar. Dahsyat ya?! Hehe.

3 kantung sampah! 

Tidak usah berdebat mengenai sampah kampanye yang dihasilkan. Mau tidak mau pasti akan terjadi. Tapi saran kami setidaknya timses kampanye bisa menyediakan relawan sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar kampanye. Kami pikir itu solusi sementara yang terbaik. Semoga bisa dipertimbangkan ya ^^



Beberapa fasilitas kebersihan di GBK pun tidak memadai seperti tong sampah yang hilang dan kerangka sampah yang tidak difungsikan. Sangat sayang sekali…

Sedih gak lihatnya?
Kalau tong sampah ga ada, nyampah menjadi pilihan
Tapi tidak hanya kabar buruk nih yang kami terima kemarin. Beberapa teman2 JOC menyampaikan bahwa beberapa selokan (walau tidak semua) sudah tidak banyak sekali sampahnya seperti dulu. Hal ini cukup menggembirakan terdengar karena kami merasakan bahwa hasil keringat JOC selama 2 tahun ini ada manfaatnya. Walau sedikit tetapi tetap ada. Dan kami tidak akan lelah untuk menyadarkan masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan. Terima kasih kepada teman-teman yang baru bergabung kemarin dan untuk yg baru mau bergabung kami tunggu selalu! 

MARI WUJUDKAN JAKARTA YANG BERSIH!

MALU BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Sampai jumpa di kegiatan JOC berikutnya.


Salam Hangat,
Jakarta Osoji Club


Sabtu, 21 Juni 2014

Kegiatan Rutin JOC




Hallo rekan-rekan, Apa kabar?

Yuk kita bersih-bersih Jakarta di GBK hari Minggu, 22 Juni 2014. Kita akan mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatannya kurang lebih selama 1 jam saja kok jadi jangan segan untuk bergabung ya. JOC menerima siapapun yang mau bergabung jadi jangan malu untuk menyapa kita besok dan langsung melakukan pemetikan sampah. 

Untuk alat pemetikan dan kantong sampah akan kita sediakan tetapi jika kalian memiliki plastik atau karung bekas yang bisa dijadikan kantong sampah boleh lho dibawa... agar kita mengurangi konsumsi plastik baru. 


Oke sampai berjumpa hari minggu besok ya..

Salam hangat,
Jakarta Osoji Club

Rabu, 18 Juni 2014

Halo kita hadir kembali!

Halo rekan-rekan sekalian,

Sudah hampir satu tahun blog ini tidak kami update karena kendala suatu dan lain hal. Tetapi jangan khawatir, karena kita akan lebih rajin untuk update blog ini lagi sebagai media untuk penyebaran informasi mengenai Jakarta Osoji Club dan hal-hal lain yang berhubungan. 

Tunggu update terbaru dari kami yah ^^.

Salam hangat,
Jakarta Osoji Club

Kamis, 13 Juni 2013

Jakarta Post, 13 June 2013

http://www.thejakartapost.com/news/2013/06/13/japanese-expats-raising-jakartans-awareness-trash.html

While a lot of Jakartans are either jogging or taking a stroll at the Gelora Bung Karno (GBK) sport complex, some people donning green T-shirts pick up trash as a result of littering in the jogging arena and put it into their garbage bags.

Their green T-shirts read “Jakarta Osoji Club”. The second word, in Japanese, means “cleaning”. As the words are also written in Japanese characters, the shirts give an initial impression that the people wearing them are Japanese, while actually only some of them are.

The Jakarta Osoji Club (JOC) was founded by a Japanese businessman, named Tsuyoshi Ashida, on April 29, 2012. 

Ashida, who has been living in Indonesia for 18 years, said that he was concerned about the high amount of trash in Jakarta, then decided to write a letter in a Japanese newspaper distributed in Jakarta, and called on all Japanese people residing in the city to discuss the problem.

“After reading the letter, some Japanese expatriates in Jakarta held a meeting in April last year and decided to establish the club,” he said.

“When we started to go out and pick trash up in the GBK, some Indonesians asked why we foreigners were doing it,” he said. “When we answered that we just wanted to clean the city from trash, they asked to join us.”

According to Ashida, the JOC now has at least 150 members, of whom about 110 are Indonesians. They clean the GBK twice a month on Sunday morning.

A JOC member, Giovani Andika Pradana, 24, who is also an Indonesian doctor, said that he had felt embarrassed to know that foreigners, such as the Japanese, had been more concerned about the environment of the city.

“Jakartans are mostly complaining about trash and floods but they do nothing,” he said, adding that joining the JOC had changed his behavior to be more concerned about the need to rid the city of trash.

Tita Tenri, 23, a safety driving consultant who has joined the JOC for seven months, said that Jakartans should not only rely on the government to get the city cleaned up.

“We have to start cleaning by ourselves first, because we are not the only ones who want to enjoy a sanitary environment in this city, also visitors from other countries do,” she said.

Ashida said he did not know why most Jakartans still threw garbage everywhere, including public places like the GBK.

He said the city administration needed to know that many foreign investors were reluctant to live and run their business in Jakarta because its surroundings were so unhealthy.

“Besides developing infrastructure, the administration should also promote people’s awareness on taking part in cleaning up the city,” he said. 

Ashida said he believed that Jakartans could change their bad habits.

“If they want to change their behavior by putting garbage in proper places, they must do it consistently,” he said.

He said that because foreigners were concerned about litter in Jakarta, local residents were expected to be encouraged to clean their own city.

“The Japanese people managed to clean up their cities due to criticism from foreigners. I hope the Indonesians will consider the JOC’s activities as a criticism too,” he said. (ian)