Kamis, 16 Juni 2016

JOC goes to Japan 2 - ' Tamagawa Eco Museum'



Tama River Eco Club adalah kumpulan relawan yang mempunyai tujuan untuk mengembalikan fungsi dan kualitas sungai Tama seperti sebelum terjadinya pencemaran.  Komunitas ini juga mengelola Tamagawa Eco Museum yang berada di sekitar sungai Tama yang juga berfungsi sebagai markas mereka. Meskipun komunitas ini beranggotakan orang lanjut usia, tetapi mempunyai semangat yang tinggi untuk menjaga kebersihan sungai Tama dari sampah dan limbah.
                 Pada kunjungan kali ini delegasi JOC kembali mengunjungi Tamagawa Eco Museum dan pada kunjungan kali bersama anggota Tama River Eco Club kami melakukan petik sampah bersama dan berdiskusi mengenai berbagai hal dalam upaya menjaga kebersihan terutama di sungai. Saat pelaksanaan petik sampah, Sungai Tama sangat bersih dari sampah, airnya jernih dan tidak berbau, ikan kecil dan besar nampak berenang-renang. Bantaran sungai dan daerah sekitar sungai juga relatif bersih dari sampah meskipun tidak ada tempat sampah. Sampah yang berhasil dikumpulkan jumlahnya sangat sedikit sekali.


Para relawan beserta delegasi JOC melakukan petik sampah di sekitar sungai Tama

 
Sampah yang terkumpul di pilah sesuai dengan kategorinya.

                Sejak zaman dulu, air di Sungai Tama dan sungai di seluruh Jepang pada umumnya  dimanfaatkan sebagai sumber air minum. Masyarakat Jepang tidak menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih karena ada beberapa risiko yang dapat terjadi seperti turunnya permukaan tanah, tidak memenuhi kebutuhan air untuk warga, takut adanya sabotase dengan cara meracuni sumber air, dan sebagainya.

                  Sejak perekonomian masyarakat meningkat, sekitar 60 tahun yang lalu untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar yang semakin banyak, pemerintah membangun dam untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Namun ternyata dengan dibangunnya dam, air Sungai Tama mulai mengering dan tidak mengalir. Karena terjadi pengurangan debit air, masyarakat mulai memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk membuang sampah dan limbah rumah tangga langsung di saluran air yang menuju Sungai Tama. Sungai Tama menjadi kotor dan tercemar, dalam 10 tahun ikan-ikan yang hidup di Sungai Tama banyak yang mati dan menghilang karena air tercemar. Melihat kondisi seprti ini, pemerintah bersama masyarakat yang peduli tentang sungai yang bersih berusaha mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber air dan dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.  Sungai dibersihkan dari sampah dan melarang masyarakat membuang sampah serta limbah rumah tangga ke sungai dengan membuatkan saluran pipa khusus untuk menyuling kembali limbah rumah tangga dan airnya dimanfaatkan kembali, misalnya untuk menyiram ladang.
Sungai Tama saat ini yang telah kembali bersih, berkat usaha keras para relawan yang terus menerus menjaganya
Selain ikan-ikan yang berada di sungai burung-burung pun banyak di temui di sini karna lingkunganya yang bersih ekosistempun terjaga dengan baik.

Tamagawa Eco Museum, menjadi salah satu media bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui mengenai sejarah sungai Tama seperti ekosistem apa saja yang hidup di dalamnya, serta berbagai program yang di jalankan dalam upaya menjaga kebersihan sungai Tama.Museum ini terbuka unutuk umum dan gratis. Berbagai jenis ikan dan hewan lain yang hidup di sungai Tama di tampilkan di museum ini. Lantai museum pun di hiasi dengan peta kota yang di lalui sungai Tama. Di sekitar museum ini dishiasi denga taman-taman kecil yang indah dan terawat, yang sering di gunakan warga untuk bermain dan bersantai.

Suasana di dalam dan di sekitar Tamagawa Eco Museum

Usia bukanlah halangan dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan karena sudah menjadi tanggung jawab setiap orang untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan baik tua maupun muda. Sama seperti  para relawan Tama River Eco Club ini yang terus menerus menjaga sungai Tama. Masyarakat sekitar dilatih untuk mengurus dan bertanggung jawab terhadap sampah sendiri yang dapat dilihat dari tidak disediakannya tempat sampah di sekitar sungai dan area museum Tamagawa serta adanya himbauan-himbauan untuk membawa pulang sampah mereka sendiri yang di pasang di beberapa tempat. Suatu usaha bila di lakukan dengan terus menerus secara tekun makan pelan-pelan akan membuahkan hasil  itulah salah satu pesan yang diberikan olah salah satu anggota relawan Tamagawa.
Dengan kunjungna kali ini JOC berharap sungai-sungai di Jakarta akan kembali bersih tak tercemar. Dengan terus berusaha menjaga kebersihan dan kampanye kepada masyarakat secara terus menerus di sertasi kerjasama dari semua pihak, suatu saat pasti akan terwujud.





Minggu, 12 Juni 2016

JOC goes to Japan 2 -' Meguro Incineration Plant'







Pada kunjungan kali ini delegasi dari Jakarta Osoji Club (JOC) berkunjung ke Meguro Incineration Plant yang merupakan tempat untuk mengolah sampah kategori yang bisa di bakar. Di jepang sampah di bagi ke dalam 4 kategori yaitu :
      Sampah yang bisa di bakar (combustibles) - Sisa makanan, sisa minyak, pakaian bekas, sampah organic, plastik pembungkus makanan, stereofoam, CD, kaset video, alat tulis, sepatu, tas, mainan
      Sampah yang tidak bisa di bakar (incombuetibles) Payung, peralatan dapur (panci, pisau, penggorengan), perkakas dari logam, barang pecah belah (keramik, kaca), bola lampu, battery, allumunium foil, alat-alat elektronik (telephone, pengering rambut, kamera)
      Sampah ukuran besar (large size waste) - Furniture (meja, kursi, lemari), kasur, sepeda, alat elektronik besar (lemari es, mesin cuci, TV, microwave)
      Sampah resource/recycle - Koran, kardus bekas, botol minuman dari kaca, botol minuman dari plastic, kaleng minuman
Setiap sampah yang terkumpul akan di bawa ke tempat-tempat pengolahan sampah sesuai dengan kategorinya seperti sampah yang bisa di bakar yang di bawa ke incineration.  

 
Grafik di atas merupaka alur pengolahan sampah di Jepang.





Meguro Incineration Plant dibangun 25 tahun yang lalu yang merupakan incineration pertama yang dibangun di kawasan Tokyo dengan kapasitas 600 ton sampah yang dapat diolah setiap harinya. Incineration ini memiliki 40 truk sampah yang bertugas mengangkut sampah sebanyak 4 kali dalam sehari dan membawa total 400-600 ton sampah yang dikumpulkan dari sampah di wilayah Meguro dan sekitarnya. Sejak saat itu pabrik ini bekerja mengolah sampah selama 24 jam setiap hari sepanjang tahun.
 
Sampah yang di angkut di timbang terlebih dahulu sebelum memasuki platform.
 
Platform, tempat dimana truk mengeluarkan semua  sampah yang di angkut ke dalam bunker



Sampah yang terkumpul akan di bakar di tempat ini dengan teknoligi tertentu pada suhu tinggi (800 deg C) agar zat-zat berbahaya terbakar sempurna sehingga tidak menimbulkan polusi. Uap panas yang di hasilkan selama proses pembakaran di olah kembali sebagai sumber pembangkit listrik. Abu hasil pembakaran inilah yang akan di bawa ke tempat pembuangan akhir yang merupakan lahan reklamasi. Abu hasil dari pembakaran sampah ini masih dapat diolah menjadi slag yang dapat dijadikan sebagai bahan baku aspal atau concrete block Semua proses di lakukan secara komputerisasi yang di awasi selama 24 jam oleh para petugas secara bergantian.


Alur proses pembakaran sampah hingga menjadi abu.

Dengan adanya proses ini sampah yang terkumpul bisa di kurangi volumenya hingga 1:20, tidak hanya membakar tetapi juga proses ini dapat menghasilkan listrik yang di gunakan untuk operasional incineration dan di jual untuk umum. Uap panas ini pun dimanfaatkan untuk pemanas air yang diberikan secara gratis kepada fasilitas umum seperti gedung pertemuan dan kolam air panas yang dapat dinikmati warga sekitar.

Berbagai manfaat yang di dapat dari adanya incineration.


Selama 25 tahun berdiri, incineration ini sangat jarang sekali mengalami kerusakan namun pernah satu kali proses pembakaran terpaksa dihentikan saat ditemukan sampah ukuran besar yang tidak bisa terbakar tercampur dalam sampah-sampah yang akan dibakar secara tidak sengaja. Untuk mengeluarkan sampah tersebut maka proses pembakaran harus dihentikan dahulu. Jika sampah tersebut tidak dikeluarkan maka proses pembakaran akan terganggu. 

Incineration ini dibangun di tengah kota yang dekat dengan pemukiman warga. Walaupun bangunan ini digunakan sebagai tempat pengolahan sampah, tempat ini tidak berbau dan tidak menghasilkan polusi. Pihak incineration membangun taman di sekitarnya agar warga lebih nyaman dengan keberadaan bangunan tersebut.